Adventure Trend?

Saya teringat kembali 5 tahun lalu dimana saya awal mula menjadi seorang presenter petualang. Saya masih teringat dengan jelas, kemanapun saya pergi, saya pasti ditanyain oleh orang-orang lokal seperti “Nggak takut hitam ya?”, “Kok mau jauh-jauh kemari?”, “Disini tidak ada apa-apa?” Tampaknya mereka skeptis melihat kedatangan saya di pelosok-pelosok negeri ini. Dipihak lain, pada saat itu teman-teman di kota kebanyakan bingung dan bertanya tentang: “Ngapain ke daerah sana, mahal mendingan ke luar negeri saja sekalian”, “Emang disana ada apa?”, Akomodasi lah dan infrastruktur yang belum memadai juga membuat teman-teman malas untuk jalan-jalan diIndonesia. Rasanya pada saat itu mereka masih ada gengsi juga untuk jalan-jalan di negeri sendiri dan lebih memilih untuk travelling diluar negeri. So, saya ingin membuktikan bahwa Indonesia itu indah dan worth travelling for dengan caraku pada saat itu. Dengan saya mengunjungi daerah-daerah terpelosok Indonesia melalui program tv saya dan sedikit melalui tulisan dan photo-photo. BUT, look at today!!! Rasanya travelling menjadi hal yang sangat mudah bagi semua orang. Komunitas adventure dalam berbagai bidang menjamur. Semua orang mendadak demam dan berlomba ingin melakukan sebuah perjalanan kemudian mengabadikannya dan mengupload ke social medianya. Ya! Sepertinya itu yang aku tangkap dari dunia adventure yang tiba-tiba heboh saat ini. Misalnya saja, account-account Instagram banyak sekali bermunculan dan berlomba untuk mengunggah photo perjalanan mereka yang begitu unik, keren, dan cantik. It’s a blessing for the Adventure world!…. I guess…

Namun aku dibuat merenung oleh phenomena ini.

Well, saya melakukan kegiatan adventure ini melalui beberapa tahapan, berawal dari proses soft travelling dulu sampai saya merasa siap untuk lanjut ke tahap hardcore travelling yang mana menjadi sebuah perjalanan adventure yang terus menerus membuat saya ketagihan. Maksud saya justru dari proses ini, saya menjadi paham makna sebuah adventure. Tidak hanya itu, rasanya jiwa petualang saya tumbuh secara alami dan menghancurkan layer-layer energy badan yang sebelumnya menghambat perkembangan diri saya untuk menjadi individu yang lebih baik dan mencapai nilai kehidupan sesungguhnya. Saya belajar menjadi seseorang yang apa adanya yang memposisikan diri sebagai bagian dari jejaring kehidupan alam semesta ini. We are one! So, it’s not just about taking pictures only dan berlomba-lomba paling banyak mengunjungi sebuah daerah tetapi kualitas adventurenya yang harus diperhatikan. Apakah kita sudah memiliki jiwa petualang yang sejati atau belum?

Untuk mendapatkan filosofi itu, ternyata membutuhkan proses waktu, pemahaman, dan sebuah pembelajaran yang cukup lama. Singkatnya, bertualang tidak hanya berburu lokasi-lokasi indah dan natural saja. Ada faktor-faktor lain yang sangat menentukan kepuasan sebuah adventure dan menumbuhkan jiwa petualang kita yang sesungguhnya yang mana pada dasarnya kita sudah miliki sedari lahir. Intinya, adventure adalah sekolah kehidupan yang sangat berharga.

Kegiatan travelling ini adalah hak setiap orang untuk menikmatinya. Sayapun bahagia sekali akhirnya masyarakat dunia terutama Indonesia pada akhirnya mulai melakukan perjalanan keluar daerahnya dan akhirnya menengok pulau-pulau eksotis di negerinya sendiri. Namun rasanya bagi saya ada hal yang hilang. Sepertinya bertautan dengan filosofi adventure saya tentang memiliki jiwa petualang.

Di UUD Kepariwisataan (Undang –Undang R.I. NO. 10/2009) secara umum kegiatan perjalanan atau travelling adalah sebagai berikut:

BAB I Pasal 1 no 1: Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

Kemudian BAB II, Pasal 2 menyatakan bahwa:

Kepariwisataan diselenggarakan berdasarkan asas: manfaat, kekeluargaan, adil dan merata, keseimbangan, kemandirian, kelestarian, partisipatif, berkelanjutan, demokratis, kesetaraan, dan kesatuan.

Lanjut ke Pasal 4:

Kepariwisataan bertujuan untuk: meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, dan mempererat persahabatan antar bangsa.

Dan pasal yang paling saya suka adalah BAB III, Pasal 5:                                                

Kepariwisataan diselenggarakan dengan prinsip:

  1.  Menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan anatara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan lingkungan;
  2.  Menjunjung tinggi hak asasi manusia, keragaman budaya, dan kearifan local;
  3.  Memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat, keadilan, kesetaraan, dan proporsionalitas;
  4. Memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidup;
  5.  Memberdayakan masyarakat setempat;
  6.  Menjamin keterpaduan antarsektor, antar daerah, antara pusat dan daerah yang merupakan satu kesatuan sistemik dalam kerangka otonomi daerah, serta keterpaduan antarpemangku kepentingan;
  7.  Memenuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan internasional dalam bidang pariwisata; dan
  8.  Memperkukuh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal ini saya masukkan kedalam tulisanku untuk menambah wawasan kita tentang adventure dan sebagai bahan kajian agar – dunia adventure yang tiba-tiba membludak ini bisa menjadi lebih baik lagi.

Nah kalau tujuan kalian melakukan kegiatan adventure untuk apa? Semoga prioritas utamanya tidak hanya untuk photo-photo, biarkanlah masalah ‘photo-photo’ itu menjadi prioritas urutan ke sekian karena otomatis kita akan photo-photo kok kalau sudah sampai ke sebuah destinasi. Tidak mungkin tidak. Aku berharap semoga kalian menikmati dari setiap perjalanan kalian baik dari segi spiritual, fisik, dan jasmani. Menghargai dan mempelajari alam, budaya dan sosial yang kalian singgahi. Walaupun belum sempurna, tidak apa, teruslah mengembangkan diri menjadi individual yang lebih baik setiap harinya.

Apa yang didapat oleh para pelancong ketika berada di sebuah destinasi? Apakah mereka mendapatkan sebuah sahabat baru? Koneksi-koneksi baru? Mempelajari budaya setempat? Mempelajari lingkungan setempat? Mempelajari kearifan local setempat? Lebih mengenali negerinya sendirikah? Apa yang didapat dari sebuah perjalanan? Apakah mereka bertanggung jawab terhadap lingkungan daerah yang mereka kunjungi dan tidak mengotorinya? Apakah mereka malu untuk mengotori daerah orang lain, tempat masyarakat tersebut hidup?

So many things to think and consider about ketika melakukan aktifitas adventure, tetapi jangan takut untuk mencoba karena dari setiap kunjungan daerah pasti akan ada suatu PEMBELAJARAN HIDUP yang membuat kita lebih baik lagi dan menumbuhkan jiwa petualang kita.

Ketika jiwa petualang kita aktif, kita akan memposisikan diri sendiri sebagai bagian dari jejaring alam semesta ini, kemudian terasa selalu melakukan kontak langsung dengan Pencipta Alam semesta, menghargai hidup yang telah kita jalani beserta dengan menghargai alam dan isinya yang sudah disediakan oleh Tuhan YME, menghormati sosial dan budaya setiap daerah. Hal-hal seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak merusak alam, dan selalu beretika dan menjadi pribadi yang bermoral kemanapun kita pergi akan menjadi sebuah kebiasaan karena telah belajar banyak hal dari setiap kegiatan adventure yang dilakukan dan menjadi jiwa petualang yang sejati.

Adventure bukanlah sebuah trend, tetapi bagi saya adventure adalah suatu tindakan alami yang dilakukan oleh seseorang dimanapun dia berada dan baik ketika dia melakukan perjalanan dekat ataupun jauh untuk memenuhi kebutuhannya guna menjadi manusia yang lebih baik lagi dan mempelajari tentang kehidupan yang singkat ini. Jadi artian adventure adalah sangat luas namun sangat dalam manfaatnya.

Maka dari itu, semoga artikelku ini bermanfaat. Bukan maksud untuk menggurui atau menasihati hanya ingin berbagi pengalaman rasa adventure saya mumpung saya masih menjalani kegiatan ini dan mumpung saya masih ingat hahaha jadi lebih baik saya share segera daripada mubazir.

Ayo teruskan kegiatan adventure kalian! Dan tumbuhkanlah rasa jiwa petualang sejatimu demi mencapai diri pribadi yang sesungguhnya!

 

Salam Jiwa Petualang!

Peace & Light,

The Adventuress –

www.fionacallaghan.com

Instagram: @ceallachain

Twitter: @fceallachain

 

NB:

Rasanya artikel ini masih kurang lengkap dan ingin saya bahas lebih jauh lagi. In the next artikel lagi aja kali ya! 😀

The Natural Lembata Island

I acquainted with several friends in the Metropolitan City, Jakarta 2 years ago.  They proudly self-promoted about their islands uniqueness with words of sincerity and the hope of visitors to come and experience their land, also at the same time they actually show their true personality of kindness, love and friendliness while talking to me. I can feel it. I was attracted by both of their true hearts and what the island have. They persuaded me to come to their land called Lembata Island and had offered me to stay at their houses once I come to visit. Once they go back, they will wait for my presence there.

I feel that the longing of me wanting to go there and the longing of the Lembata people for me and the other visitors to pay a visit to Lembata are equal.

Well, who would have thought that I would finally come to Lembata. This chance I have, felt like a fruitful result of my patience, longing, spirit and positive mind. I cannot believe myself. Although still in doubt, I braved myself to contact my friend that I met before in Jakarta and told him that I was coming and he responded happily with a –cannot-believe-that-I-finally-came kind of voice.

The Sunrise arriving at Kupang
The Sunrise arriving at Kupang

 

 

 

 

 

 

 

Departing Jakarta before the sunrise at 2.30 am and arriving in Kupang at 6.30 am, I was excited! We waited for another smaller aircraft to board at 8.30 am to our final destination in Lewoleba, Lembata Island at 9.10 am.

The Lembata people performing the Hedung Huri dance
The Lembata people performing the Hedung Huri dance
One of the elderly during the welcoming of visitors at the airport
One of the elderly during the welcoming of visitors at the airport

 

 

 

 

 

 

Lewoleba is the capital City of Lembata Island. During the Dutch reign, Lembata was known as the Lomblen Island. Geographically it is positioned at:

North: Flores Sea

South: Sawu Sea

West: Boleng Strait and Lamakera Strait

East: Alor Strait.

Astronomically Lembata Island is positioned at 8°10′ – 8°11′ LS dan 123°12′ – 123°57′ BT. To make it more clearer, Lembata Regency is part of the Nusa Tenggara Timur Province. Internationally, Lembata is popular for its traditional whale hunting.

When I stepped out my first feet along the short ladders of the commuter aircraft, I saw the locals getting ready to welcome the visitors through dancing with traditional music and placing Lembata’s exotic weave around our neck. I finally met one good friend of mine named Lega and gave me a huge traditional Lembata’s weave and put it on my shoulder and say ‘This will give you beautiful dreams’.  Then the welcoming dance called Hedung Huri was presented spirit fully. The dancers show their sincere happy faces towards us. ‘It feels like a dream that you are here!’Lega said to me. I felt welcomed at the Lembata land.

Lembata Island
Lembata Island

My report about the weather was hot that time and although there were some grey clouds. But rain hasn’t come yet. The sun did make my skin tanned enough.

My Ride
My Ride

Well, it was a short trip for me but it left me with meaningful memories. My ride during my journey there was a tough rigid blue coloured hardtop. No air-conditioner with hard seats. ‘Perfect!’ I said cheerfully. My driver is a young local, strong and much focused on the road. He is a racer from Nusa Tenggara Timur named Pieter Witak. 4×4 Cars are suitable for the roads here, which are natural and rocky. Since they have long summer here, the roads are dusty which adds up the adventure.  What Lega said to me earlier, that Lembata is known for its 3 coloured land which are black, brown, and green. So, although its rainy season, there will still be some dry leaves or grass at some area in Lembata. I also asked him about how long it takes to circle the island. He answered confidently, ‘It only takes 3 days using a 4×4 car’.

Pieter took me to Bukit Cinta and Bukit Doa. Watching the view from the hardtop window that I pulled down, Lembata scenery does look similar with Taman Nasional Baluran in East Java with dry savannah, palm trees, dry trees all yellow and brown coloured. It was amazing!

Bukit Cinta with my Columbia shoes
Bukit Cinta with my Columbia shoes
IMG_4397
The surrounding view at Bukit Cinta

 

 

 

 

 

 

 

Our first stop was Bukit Cinta (The Love Hill), it took us less than an hour drive from Lewoleba. Pieter drove vigorously that rattles the hardtop until I have to fix and catch things like a bottle of water, sunglasses and things that fall form the dashboard. We laughed at it. There were 2 big holes that was dug facing the sea in Bukit Cinta. And based on the information, they would build a big Jesus statue on top of this hill. The front scenery was the sea and the mountain. Behind are rolling hills of brown savannah. Not much vegetation grows there. From my standing point, far away I could see 1 solitude tree living strongly among the vast brown savannah. Then we continued our journey to Bukit Doa (The Praying Hill).

Mother Mary at Bukit Doa
Mother Mary at Bukit Doa

 

Jesus’s Crucifixion at Bukit Doa
Jesus’s Crucifixion at Bukit Doa

It wasn’t located that far from Bukit Cinta. It would take us faster if the roads are smooth but hey that is the sense of adventure right! The hardtop went up and around the offroad hill until we reached at the peak. It was around half an hour to reach that place. There was a big white statue of Mother Mary standing firmly on top of The Praying Hill. On the front-left side there was a beautiful bronze of Jesus’s Crucifixion. The scenery in front of The Praying Hill was spectacular.  The same with the Bukit Cinta hill which is the vast sea and a mountain. Behind and around the Mother Mary was the amazing brown coloured savannah. I had found out that there’s actually stairs going down at my left side and we had started from the end point of Bukit Doa which is on the peak. So, I went down tracing the stairs and left Pieter driving the hardtop down and pick me up there at the starting point. Along the way I found out that there are more of Jesus’s crucifixion story of beautiful bronze statue that are divided into 14 bronze statues in total which the 1st statue started at the downhill and the last statue ends up at the top hill with the Mother Mary. I felt peace and nature infused together inside my heart.

The local kids playing at the beach
The local kids playing at the beach
The local kids playing at the beach
The view of Jontona Village

 

 

 

 

 

 

 

Then we went to Jontona Village, Ile Ape district. There were huts facing the lovely beach with spectacular Lembata landscape of hills and sea. Behind my back was the view of the spectacular mountain of Ile Ape. Ile means mountain and Ape means fire. Ile Ape has another famous name which is Ile Lewotolok. It is still active and produces sulphur as we can see the white gas surrounding the summit. It was just beautiful. A beautiful view. A good friend of mine that resides at Lembata named Takdir says that the local kids like to trek up the mountain and play football around the summit. I was surprised by that statement. I just couldn’t believe it as I say ‘Really?’and he answers spirit fully and trying to convince me with his words. So, since that time I am curious with Ile Ape. I wish that one day I would climb the spectacular mountain of Lembata.

A Blue Whale Skeleton from 2008 with Mr. Josef Lawi
A Blue Whale Skeleton from 2008 with Mr. Josef Lawi
Another Blue Whale Skeleton along our way back
Another Blue Whale Skeleton along our way back

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Not far from the beach. I saw a huge skeleton of a blue whale. And yes!!! It’s a blue whale. The blue whale according to the locals, are likely to be stranded around the bay or at their beach. They often tried to pull the whale back in the ocean. Some were in success and some like to come back at the shore and dies. So, the locals took the meet and placed the skeleton in a hut as a memoriam. The one I saw was in 2008. Along the ride home, I also see another skeleton of a blue whale under a natural made hut. Well, the traditional whale hunting that are usually held at Lamalera Village, hunts only sperm whale and orcas using harpoon and ropes. The only species of whale that can’t be hunted is the blue whale (Balaenoptera musculus). I guess there is a myth or a sacred history about it. It was nearly the whaling season when I came. Maybe, I only have to wait another 2 weeks to be able to see its tradition. And like I always believe that adventure always gives you surprises and curiosity. So, that we could be grateful and come back again one day.

Ile Ape
Ile Ape

Lembata Island is definitely a remote island in Nusa Tenggara Timur. No buildings except for the capital city but nothing tall and eye catching. The island is a pure natural. And I hope it will always stay that way. How would you enjoy the nature in the modern days along with the sophisticated technology when all is easy, effective, and built in cement and hard concrete. When will we learn about life? When will we be grateful of what we have? Until when do we have to be aware of the importance of nature? How should we enjoy the God’s gift for human beings such as nature? We live from nature, don’t we? Why living in such a fast phase life? I know life is short but use it well to learn the values of our lives. Make it meaningful.

IMG_4306
Bukit Cinta

Explore the lands in the world. Don’t change them. Respect the aesthetic of God’s made. You will feel deep in feelings of awe and appreciation. Travel to learn and adventure to make yourself a better person.

And one more, the people of Lembata are pure. They love seeing visitors come. I can feel their hope at the quite land. Kids and adults are grown in such a natural characteristics. They live through nature. They have live their real life. And have we?

How to get to Lembata Island? Go check www.indonesia.travel

All photographs are taken by me, Fiona Callaghan. Except the ones with me in it.

 

 

Festival Bahari Nuhanera 2015

When: An annual event- check its schedule and information at www.Indonesia.travel

Where: Nuhanera Cape, Waienga Bay, Lembata Island (Lomblen Island), Nusa Tenggara Timur Province. The Nuhanera Cape coastal line has the length of 91 Km with 1 Km wide as the Bay’s gateway.

Events: Swimming competition, traditional boat rowing competition of 2 people, fishing competition, paramotoring, boat parade, participants of International yacht rally, and stalls of local food and souvenirs.

How: Take a flight to Kupang (KOE) and continue with smaller aircrafts towards Lewoleba (LWE).

My experience:

Although it’s just a trip of a day, I enjoyed being at the bay.

The local government and society of Lembata Island – most especially for the people who lives around the bay which consists of 14 villages from 3 districts – tried its best to make this festival live and happen. With its second year, they hope to build and grow its local economy around the area through tourism. I was very happy that there were international tourists participating in a group of around 20 people with their own yachts, rallied together coming from almost around the globe; some are from New Zealand, Australia, and America.

The landscape view is exotic and some divers said that the Waienga Bay has beautiful underwater. Well, I have to come back again and see it myself but I believe it’s prettiness because the land is such a natural. No buildings or hard concrete around the area that really makes the place perfect.

With a day that I have, I maximized my opportunity to walk up the hill and mingle with the friendly locals. They are precious, like we are. So, I hope by this festival the local economy would grow through tourism without changing its natural aesthetic.

 

Photos:

Location of Festival Bahari Nuhanera 2015
Location of Festival Bahari Nuhanera 2015
The participants also includes international and local tourist.
The participants also includes international and local tourist.

 

 

 

 

 

Waienga Bay's Nature
Waienga Bay’s Nature
Waienga Bay's Nature
Waienga Bay’s Nature
Boat Parade with locals dancing on the boat welcoming us
Boat Parade with locals dancing on the boat welcoming us
Boat Parade with locals dancing on the boat welcoming us
Boat Parade with locals dancing on the boat welcoming us
Paramotor participating from Java Island
Paramotor participating from Java Island
Paramotor participating from Java Island
Paramotor participating from Java Island
Souvenirs of Shells and Local Fish - green painted that all its body content are taken out and sewn so that its light and you can hang it or put it on the table.
Souvenirs of Shells and Local Fish – green painted that all its body content are taken out and sewn so that its light and you can hang it or put it on the table.
Handicraft Souvenirs and the Qwner
Handicraft Souvenirs and the Owner
Waienga Bay Ladies
Waienga Bay Ladies
Fishing Competition
Fishing Competition
Waienga Bay's Nature
Waienga Bay’s Nature

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The winners of swimming competition Photographed by
The winners of swimming competition
Photographed by Muhammad Takdir Ratuloly

 

 

 

 

 

 

 

 

All photographs are taken by Fiona Callaghan except for ‘The winners of swimming competition’ photo by Muhammad Takdir Ratuloly

 

Pink Beach and Tanjung Ringgit

Pantai Pink merupakan salah satu pantai yang menarik perhatian saya. Nama asli dari pantai ini adalah Pantai Tangsi yang terletak di daerah Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat. Pantai tersebut mempunyai nama popular pink karena memang pasirnya berwarna pink jadi lambat laun orang-orang yang sudah berkunjung kesana menyebutkannya dengan sebutan mudah pink.

65f78334da5e95603fd4dc206ebe8cf4_p1050993-300x212
The Pink Beach

Sebutan pink memang mempunyai daya tarik tersendiri apalagi bagi para perempuan dunia yang secara dominan menyukai warna merah muda ini dan sering menjadikan trend warna terutama dalam gaya. Saya sebagai salah satu penyuka warna merah muda ini menjadi penasaran sekali untuk kesana dan melihatnya secara langsung. Sampai-sampai sudah berencana untuk memakai kaos pink, supaya pas diphoto, saya seperti berada dalam kayangan langit pink. Like a fairytale story.

 

Me at Pink Beach
Me at Pink Beach

Menuju kesana tidaklah mudah. Membutuhkan waktu kurang lebih dua jam dari Kota Mataram. Belum lagi jalanan yang lumayan rusak memperlambat proses perjalanan saya menuju kesana.

Pink Beach, Lombok
Pink Beach, Lombok

Sampai ditempat tujuan pagi hari sekitar jam 9-10an am, pantai tersebut sangat sepi. Masih didalam mobil, saya merasa kebahagiaan kecil karena seperti memiliki pantai itu sendiri and you can do anything you want! hahaha egois! Saya turun dari mobil dan langsung penasaran lari kecil untuk melihat pasirnya yang katanya berwarna pink itu. Katanya kita untung-untungan untuk melihat pasirnya, karena sering kali juga pengunjung kurang bisa melihat warna pinknya berekspresi tergantung dari kondisi alam, walaupun kita perhatikan dengan dekat warna pasirnya memang pink.

Well, kesempatan saya pada saat melihat warna pinknya itu tidak terlalu keluar warnanya, karena pasirnya tampak sedikit basah karena mungkin bekas hujan tadi malam. Namun ketika matahari mulai bersinar tajam diatas kepala, lambat laun pasir warna pink bisa terlihat juga.

Mengapa pasir tersebut bisa berwarna pink? Karena pecahan koral berwarna merah yang menjadi serpihan pasir kemudian menyatu dengan pasir putih yang berada disana. Seiring waktu dengan proses alam jadilah pasir itu berwarna pink. Unik! Lalu saya perhatikan sapuan ombak di bibir pantai seperti memberitahukan saya untuk melihat warnanya disebelah sana. Dan ya pasirnya pink! Manis sekali ketika dilihat.

Di kiri kanan pantai ini, terdapat tebing-tebing yang sangat indah berwarna putih. Di salah satu bukit ada yang bisa dijadikan wisata sejarah, yaitu terowongan Jepang atau sering disebut goa Jepang yang berukuran panjang kurang lebih 50meter itu. Adanya terowongan itu dibuat untuk barikade tentara Jepang pada jaman perang. Bersama orang lokal yang tinggal disana, saya masuk ke terowongan pendek itu dan melihat banyak kelelawar-kelelawar kecil tidur menggantungkan diri diatas langit-langit terowongan yang semakin ke tengah semakin kita harus merundukkan badan. Ada satu terowongan lagi didalamnya yang tidak sempat dibuat oleh Jepang karena mereka kalah dalam pertempuran dan pulang ke negerinya pada saat itu. Dan kami keluarlah dari mulut terowongan terakhir yang kemudian saya ditunjukkan tempat untuk melihat sedikit benteng yang tersisa dan ada terowongan kecil lagi namun buntu kira-kira tiga meter kedalam karena tidak dilanjutkan kembali oleh bala tentara Jepang itu.

Setelah kembali ke pantai lagi, ada satu perahu jukung yang baru mampir. Saya langsung meminta tolong untuk mengajak saya keliling area Pantai Pink ini. Wah, walaupun udaranya sangat panas karena matahari menari-nari dengan bahagianya dilangit, jiwa sayapun jadi ikut-ikutan bahagia karena saya bisa menikmati pemandangan yang ditawarkan oleh daerah ini. Panaspun menjadi tidak masalah bagi saya dengan melihat warna langit dan laut saja sudah menjadi tontonan penyejuk hati karena seakan-akan ingin menunjukkan masing-masing dirinya paling hebat dalam mengekspresikan warna biru yang damai itu. Setelah berjalan sedikit jauh dari pantai, dasar laut masih terlihat dangkal. Rasanya ingin snorkelling untuk melihat ada apa saja dibawah sana. Namun perjalanan masih kita lanjutkan yang ternyata menghantarkan kita ke sebuah pulau kecil-kecil berderet tiga, yang mana dinamakan dengan Pulau Tiga.

3064cf148dc4cc7ba76cae4635d2f00f_p1060009-768x1024
Pulau Tiga from far away

Sungguh luar biasa indah sekali Pulau Lombok ini, masih banyak sekali tempat-tempat indah seperti ini yang belum banyak terjamah oleh orang. Pulau-pulau kecil ini sangat eksotik menunjukkan dirinya dalam kesunyian alam yang damai. Ada sedikit tangga yang bisa membawa kita naik keatas bukit kecil itu dan melihat sekelilingnya. Saya perhatikan ada pohon yang tumbuh dan karakter flora yang jarang saya lihat ketika travelling ke daerah pantai atau laut. Sungguh area ini menyuguhkan sesuatu yang berbeda bagi para pengunjungnya. Warna laut cukup membuat saya terpana karena gradasi warnanya yang begitu legit dari warna biru dan hijau tosca. Begitu menyegarkan jiwa raga ketika kita menikmatinya langsung. Di sebelah tangga ada yang menyerupai terowongan pendek yang terbuat dari karang dan kitapun bisa berenang disekitaran pulau ini karena laut terlihat masih dangkal dan aman. Sayang sekali saya harus kembali ke pantai pink dan melanjutkan kembali perjalanan. Padahal saya ingin sekali berleha-leha tiduran diatas pasir dan meresap semua keindahan yang ada disini.

The Tiga Island
The Tiga Island
Lombok
Cliffs around Pink Beach
The Tiga Island
The Tiga Island
Lombok
Cliffs around Pink Beach.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Next stop adalah Tanjung Ringgit, wilayah Kecamatan Jerowaru, Desa Pemongkong yang tidak jauh dari Pantai Pink ini. Namun akses jalan memang masih rusak seperti jalan sebelumnya dan menuju kesana seperti hanya untuk orang-orang yang tahu saja tentang informasi daerah ini. Begitu sepi, begitu menenangkan jiwa.

Sesampai disana, saya tidak menyesalinya sedikitpun. Impresi pertama saya melihat Tanjung Ringgit ini adalah seperti diluar negeri. Entah kenapa saya meihatnya seperti New Zealand, but this is in Lombok. Bangganya saya menyaksikan keindahan alam Indonesia! Tebing- tebing putih yang saya ceritakan tadi di Pantai Pink itu terlihat indah di perbukitan sini. Laut lepas nan biru yang tiada ujungnya saya lihat dari atas bukit hijau ini dengan karakter flora yang hampir mirip di Pulau Tiga.

Disinipun ada peninggalan Jepang yaitu meriam yang besar. Saya jadi langsung membayangkan perang dunia II pada saat itu. Oh, sangat menyeramkan! Dengan meriam panjang yang berhadapan langsung ke lautan Samudra Hindia untuk melawan sekutu yang datang dari arah sana demi mempertahankan dan memenangkan daerah yang indah ini!!! Ah, sangat syukur sekaliiiii Tuhan Engkau memberikan Indonesia kemerdekaan sehingga saya, kamu, sahabat semuanya bisa menikmati indahnya daerah ini. Katanya meriam itu aslinya ada tiga; Sisa duanya berbentuk kecil namun hilang entah kemana.

Setelah mempelajari karakter daerah area ini, yang mana sebelah kiri saya berdiri sudah berhadapan langsung dengan Pulau Sumbawa dan Selat Alas; Dalam keheningan alam Tanjung Ringgit disertai sepoyan angin membelai badanku saya mendengarkan bunyi lonceng yang simple. Ah, apakah itu? Setelah saya mencari tau ternyata ada sekawanan kerbau yang mencari makan dan pemiliknya berdiri dibawah pohon yang cukup untuk meneduhkan badan. Wah, betapa murninya kehidupan alam ini.

%d bloggers like this: